our blog

wrap insight

November 25, 2017 / by Wienanto Tanuwidjaja / In Laporan Laba Rugi / Leave a comment

Cara Jadi Ahli Membuat & Menganalisa Laporan Laba Rugi dengan Mudah

Setiap pengusaha pasti ingin menjadi ahli dalam membuat dan menganalisa laporan laba rugi.

Namun, masing-masing dari kita memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, dan tidak semua pernah mendapatkan pendidikan mengenai ilmu keuangan dan akuntansi.

Laporan laba rugi sangatlah penting karena beberapa alasan berikut:

  1. Merupakan indikator yang menunjukkan apakah perusahaan Anda ‘untung atau buntung’ untuk periode tertentu.
  2. Laporan laba rugi per periode dapat menampilkan tren apakah keuntungan dan kerugian Anda sedang bertambah atau berkurang.
  3. Menjadi dasar untuk memproyeksi perkembangan ke depan serta penentu bagi Anda dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi lebih banyak uang, waktu, ataupun tenaga.

Artikel ini akan membantu Anda yang ingin belajar laporan laba rugi secara cepat dan mudah. Setelah membaca tulisan ini, Anda akan mampu membuat dan menganalisa laporan laba rugi serta tahu lebih banyak mengenai ilmu keuangan dan akutansi yang akan sangat berguna bagi pengembangan bisnis Anda.

Dalam artikel ini, akan ada 4 hal yang Anda pelajari mengenai Laporan Laba Rugi:

  1. Arti Laporan Laba Rugi
  2. Komponen Pembentuk Laporan Laba Rugi
  3. Cara Membuat Laporan Laba Rugi
  4. Cara Menghitung Titik Impas (Break Even Point)
  5. Cara Membaca Rasio Kesehatan Perusahaan dari Laporan Laba Rugi

Ayo kita mulai!

Apa Itu Laporan Laba Rugi?

Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang melaporkan kinerja keuangan perusahaan untuk periode akuntansi tertentu.

Kinerja keuangan dinilai dari bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan dan mengeluarkan uang, baik dalam kegiatan operasional maupun non-operasional.

Hasil akhir dari laporan keuangan akan menunjukkan laba atau rugi yang dihasilkan.

Laporan laba rugi melaporkan pendapatan (revenue), harga pokok penjualan (cost of goods sold) dan biaya (expense).

Laporan laba rugi yang melaporkan keuntungan disebabkan oleh salah satu atau gabungan faktor di bawah ini:

  • kenaikan angka pendapatan
  • penurunan harga pokok
  • penurunan biaya

Laporan Laba Rugi Untung

Komponen Pembentuk Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi dibagi menjadi 3 area yaitu:

  1. Penjualan
  2. Harga Pokok Penjualan
  3. Biaya

Laporan laba rugi mengikuti bentuk sebagai berikut:

Bentuk Laporan Laba Rugi

Secara sederhana, laporan laba rugi diawali dengan angka penjualan, kemudian dikurangi dengan harga pokok penjualan yang menghasilkan angka laba kotor.

Kemudian laba kotor dikurangi biaya penjualan serta biaya umum dan administrasi untuk mendapatkan laba operasional.

Di bagian paling bawah, dengan mengurangkan laba operasional terhadap biaya bunga, biaya depresiasi-amortisasi dan biaya pajak, didapatlah laba atau rugi bersih (net income / net loss).

Untuk pemahaman yang mendalam, mari kita bahas setiap komponen besar pembentuk laporan laba rugi satu per satu.

 

#1 – Penjualan

Penjualan adalah nilai barang atau jasa yang diberikan kepada klien.

Meskipun laba bersih menjadi sorotan terbesar dalam laporan laba rugi, angka penjualan tetap menjadi awal dari kinerja keuangan.

Dalam jangka panjang, persentase laba dari penjualan pada akhirnya akan menemui titik maksimal yang sulit ditingkatkan. Oleh karena itu, perusahaan harus mementingkan peningkatan penjualan untuk dapat terus berkembang.

#2 – Harga Pokok Penjualan

Bagi perusahaan yang memproduksi barang, harga pokok penjualan adalah pengeluaran untuk pembelian bahan mentah produksi, biaya gaji karyawan & biaya produksi lainnya yang berkaitan dengan pembuatan barang.

Untuk distributor & retailer, harga pokok penjualan adalah harga pembelian barang itu sendiri yang kemudian akan dijual kembali.

Untuk perusahaan jasa, harga pokok penjualan adalah biaya yang timbul akibat jasa yang diberikan – biasanya berkaitan dengan biaya sumber daya yang dipakai untuk menghasilkan jasa tersebut.

#3 – Laba Kotor

Laba kotor perusahaan adalah hasil pengurangan antara penjualan dengan harga pokok penjualan.

Laba kotor adalah angka yang harus dapat mencukupi bahkan melebihi seluruh biaya perusahaan. Yang pasti, semakin besar dan semakin stabil laba kotornya, semakin besar potensi hasil positif untuk laba bersihnya.

#4 – Biaya Operasional

Biaya operasional berkaitan dengan biaya penjualan serta biaya umum & adminstrasi.

Biaya penjualan adalah biaya yang timbul dari adanya aktivitas pemasaran & penjualan.

Biaya umum & administrasi adalah biaya yang timbul akibat menjalankan roda aktivitas perusahaan untuk memenuhi angka penjualan yang tercatat.

Rasio persentase antara biaya operasional dibanding dengan penjualan yang terjadi harus selalu dipantau tren pergerakannya. Hal ini dapat membantu Anda untuk menemukan sinyal-sinyal positif atau negatif mengenai kemampuan manajemen untuk beroperasi secara efisien.

#5 – Laba Operasional

Laba operasional diperoleh dengan mengurangkan angka laba kotor pada biaya operasional.

Angka ini menunjukkan pendapatan perusahaan melalui aktivitas operasional sebelum mengurangkan dengan biaya bunga, biaya depresiasi-amortisasi dan biaya pajak.

Laba operasional adalah angka krusial yang digunakan oleh analis finansial untuk menilai tingkat keuntungan sebenarnya dalam perusahaan.

#6 – Biaya Bunga

Biaya bunga adalah biaya yang timbul akibat meminjam dana dari bank atau institusi finansial lainnya.

Untuk menghindari atau minimalisir peminjaman uang akibat tidak memadainya persediaan kas dalam memenuhi seluruh pengeluaran pembelian barang & biaya, strategi pengelolaan arus kas yang tepat sangatlah penting.

#7 – Biaya Depresiasi & Amortisasi

Biaya depresiasi adalah biaya penyusutan atau berkurangnya nilai atas aset tetap berwujud (tangible assets) yang berbentuk kendaraan, mesin, peralatan & bangunan karena terpakai dalam periode tertentu.

Sebagai contoh, bila Anda memiliki perusahaan percetakan, Anda mungkin membutuhkan mesin cetak seharga Rp 120 Juta. Sesudah pembelian, mesin tersebut menjadi aset tetap yang umur pemakaiannya selama 5 tahun.

Sesudah 5 tahun, Anda memperkirakan mesin cetak itu sudah harus diganti.

Hal ini berarti bahwa mesin tersebut memiliki biaya depresiasi sebesar Rp 2 Juta/bulan hasil dari membagi nilai pembelian mesin Rp 120 juta dibagi 60 bulan (5 tahun) umur pemakaian.

Pembelian aset tetap sangatlah penting bagi perusahaan untuk menjalankan produksi & roda operasional. Hal yang perlu diingat hanyalah membeli sesuai keperluan dan dengan spesifikasi yang tepat – tidak kurang atau berlebih.

Pembelian aset yang dengan harga tinggi namun tidak memberikan imbal hasil yang sesuai akan menambah beban depresiasi anda yang berakibat berkurangnya laba bersih.

Biaya amortisasi adalah adalah biaya penyusutan atau berkurangnya nilai atas aset tetap tak berwujud (intangible assets) yang berbentuk hak paten, hak cipta, hak menggunakan merk & hak franchise.

Cara menghitung biaya amortisasi sama dengan biaya depresiasi.

#8 – Biaya Pajak

Biaya pajak adalah biaya yang terjadi akibat beroperasinya suatu perusahaan dalam wilayah hukum negara tertentu.

Di Indonesia terdapat berbagai jenis pajak yang dikenakan untuk perusahaan sesuai dengan jenis usahanya.

Secara umum, pajak yang hampir pasti terkena kepada perusahaan adalah:

  1. Pajak Penghasilan Pasal 21 – pajak atas penghasilan dari pekerjaan, jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diterima atau diperoleh
  2. Pajak Penghasilan Pasal 23 – pajak transaksi dividen (pembagian keuntungan saham), royalti, bunga, hadiah dan penghargaan, sewa dan penghasilan lain yang terkait dengan penggunaan aset selain tanah atau transfer bangunan, atau jasa.
  3. Pajak Penghasilan Pasal 25 – pajak atas laba bersih perusahaan
  4. Pajak Penghasilan Pasal 29 – setoran kekurangan pajak atas laba bersih perusahaan. Pajak ini harus dibayarkan sebelum SPT Tahunan PPh Badan dilaporkan.

Untuk lebih detailnya, anda dapat mengunjungi situs finansialku.com

#9 – Laba / Rugi Bersih

Ini adalah indikator untuk menentukan profitabilitas perusahaan: kemampuan untuk menghasilkan laba.

Tentunya, bila biaya melampaui pemasukan, angka ini menjadi merah, yang berarti bahwa perusahaan menderita kerugian.

Bila perusahaan menghasilkan keuntungan, sesudah membagi deviden, jumlah yang tersisa akan menjadi modal tambahan sebagai laba ditahan.

Laporan Laba Rugi Common Size – Cara Buat Angka Jadi Bermakna

Cara mengetahui apakah laporan laba rugi sebuah perusahaan sedang membaik atau memburuk dilakukan dengan cara membandingkan laporan laba rugi setiap periode.

Periode yang lazim digunakan untuk membandingkan adalah perbulan, perkuartal (pertiga bulan) atau pertahun.

Namun membandingkan langsung angka-angka dalam laporan laba rugi akanlah sulit mengartikannya.

Cara mudah yang dipakai untuk mendapatkan gambaran obyektif perubahan laporan laba rugi dari waktu ke waktu adalah dengan mengubahnya menjadi laporan laba rugi common size.

Laporan laba rugi common size adalah laporan laba rugi dimana setiap angka ditunjukkan dalam bentuk persentase dari angka penjualan.

Laporan laba rugi dalam bentuk ini:

  • mempermudah analisa antar periode
  • mengetahui dengan cepat kenaikan & penurunan setiap bagian laporan laba rugi
  • mengidentifikasi komponen yang berdampak besar pada laba

Silakan lihat contoh di bawah ini:

Dengan mengubahnya menjadi laporan laba rugi common size, keadaan perusahaan sesungguhnya menjadi sangat jelas.

Laporan laba rugi ini menunjukkan persentase harga pokok penjualan turun, walaupun secara nominal, jumlahnya meningkat dari 63 juta menjadi 66 juta.

Dampaknya, persentase laba bersih naik dari 13.3% menjadi 17% dan nominal uangnya naik dari 12 juta menjadi 17 juta.

Selanjutnya, apabila anda sudah memiliki laporan laba rugi periode berikutnya, anda dapat membuat analisa tren. Analisa tren akan memberikan gambaran paling obyektif tentang kondisi perusahaan dari periode ke periode.

Break Even Point

Cara Menghitung Titik Impas (Break Even Point)

Hal maha penting yang dapat dihitung sesudah anda mempunyai laporan laba rugi atau proyeksi laporan laba rugi (bila bisnis anda masih baru) adalah menghitung titik impas (break even point).

Titik impas (break even point) adalah angka penjualan dalam nominal uang dan jumlah unit yang harus dicapai agar menutupi seluruh pengeluaran harga pokok penjualan & biaya yang timbul untuk menjalankan perusahaan.

Di titik impas anda tidak menderita kerugian.

Setiap pebisnis saat memulai usaha harus mengetahui angka break even point karena itu menjadi target pertama yang harus dicapai sebelum meraih keuntungan.

Sangatlah esensial untuk memahami perbedaan yang terjadi antara pemasukan dan laba.

Setiap penjualan menghasilkan pemasukan.

Namun sesudah penjualan melewati titik dimana semua harga pokok barang serta biaya terbayar, barulah penjualan di atas itu menghasilkan laba.

Untuk menghitung titik impas (break even point) anda harus mengetahui:

  • Fixed Cost (FC) – Biaya tetap (operasional & non-operasional)
  • Price (P)  – Harga jual satuan barang
  • Variable Cost (VC) – Biaya variabel untuk memproduksi satuan unit barang

Rumus Menghitung Titik Impas (Break Even Point)

Terdapat dua rumus untuk menghitung BEP yaitu:

  • BEP Unit – Jumlah unit barang yang harus dijual
  • BEP Sales – Angka penjualan yang harus dicapai

Rumus BEP Unit = FC / (P – VC)

Rumus BEP Sales = FC / [1 – (VC/P)]

Contoh:

Anda mau membuka usaha menjual donat dimana perincian perhitungannya sebagai berikut:

  • Biaya tetap adalah Rp 100 Juta
  • Harga jual donat Rp 9.000/buah
  • Biaya produksi donat Rp 3.000/buah

BEP Unit   = 100 Juta / (9.000 – 3.000)

= 16.667 buah target unit penjualan

BEP Sales = 100 Juta / [1 – (3.000/9.000)]

= 100 Juta / [1 – 0.33]

= 100 Juta / 0.67

= Rp 149,25 Juta target angka penjualan

Cara Membaca Kesehatan Perusahaan dari Laporan Laba Rugi

Membuat laporan laba rugi yang akurat dan siap tepat waktu adalah pekerjaan pertama.

Selanjutnya, Anda harus mampu membaca dan menganalisanya untuk menentukan langkah sebagai berikut:

  1. Bila laporan laba rugi buruk, mengubahnya menjadi baik.
  2. Bila laporan laba rugi baik, membuatnya menjadi lebih baik lagi.

Cara membaca dan menganalisa adalah dengan menghitung rasio finansial dari komponen-komponen pembentuk laporan laba rugi.

Pakailah 8 rasio finansial di bawah ini untuk memantau profitabilitas perusahaan anda.

#1 – Margin Kenaikan/Penurunan Penjualan (Sales Growth Margin)

Cara menghitung margin kenaikan/penurunan penjualan adalah penjualan periode ini dikurangi dengan penjualan periode sebelumnya lalu dibagi dengan penjualan periode sebelumnya.

% Kenaikan Penjualan = Penjualan Periode Ini – Penjualan Periode Sebelumnya / Penjualan Periode Sebelumnya

Perusahaan yang bagus dapat menaikkan penjualan per tahun sekitar 20%.

#2 – Margin Laba Kotor (Gross Margin)

Cara menghitung margin laba kotor adalah membagi laba kotor dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan persentase pendapatan penjualan yang tersisa sebagai laba kotor sesudah dipotong harga pokok penjualan.

% Laba Kotor = Laba Kotor / Penjualan

Perusahaan yang kuat memiliki margin laba kotor di atas 40%.

#3 – Margin Laba Operasional (Operational Profit Margin)

Cara menghitung margin laba operasional adalah membagi laba operasional dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan berapa pendapatan yang tersedia sesudah mengurangi harga pokok penjualan dan biaya operasional.

% Laba Operasional = Laba Operasional / Penjualan

Laba operasional adalah barometer penting yang selalu dilihat para analis untuk mengukur kemampuan perusahaan beroperasi secara menguntungkan.

Laba operasional sering juga disebut laba sebelum bunga, pajak, depresiasi & amortisasi (EBITDA – Earning before tax, depreciation & amortization).

#4 – Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

Cara menghitung margin laba bersih adalah membagi laba bersih dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan berapa pendapatan yang tersisa sesudah dikurangi harga pokok penjualan dan seluruh biaya untuk menjalankan perusahaan.

% Laba Bersih = Laba Bersih / Penjualan

Perusahaan yang kuat memiliki margin laba bersih di atas 20%.

#5 – SGA to Sales Ratio (Biaya Operasional Dibanding Penjualan)

Cara menghitung rasio SGA to sales adalah membagi biaya operasional dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan persentase biaya operasional terhadap penjualan.

% SGA to Sales = Biaya Operasional / Penjualan

Pantau rasio ini selalu berada dalam rentang stabil atau cenderung menurun yang berarti Anda memegang kendali biaya operasional.

Perusahaan yang baik memiliki rasio di bawah 30%.

#6 – Interest Coverage Ratio 

Cara menghitung rasio interest coverage adalah membagi laba operasional dengan biaya bunga. Interest coverage ratio adalah indikasi kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban membayar hutang.

Interest Coverage Ratio = Laba Operasional / Biaya Bunga

Rasio interest coverage yang layak adalah ≥ 5X (lebih besar atau sama dengan 5).

#7 – Imbal Balik atas Aset (Return on Assets)

Cara menghitung return on assets adalah membagi laba bersih dengan aset yang dikelola pemilik usaha. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengubah aset yang dikelola menjadi keuntungan.

Imbal Balik Atas Aset = Laba Bersih / Total Aset

Rasio yang rendah dibandingkan dengan perusahaan lain berarti pesaing anda telah menemukan jalan untuk beroperasi lebih efisien.

#8 – Imbal Balik atas Modal (Return on Equity)

Cara menghitung return on equity adalah membagi laba bersih dengan modal yang diinvestasikan pemilik usaha. Rasio dalam persentase ini menunjukkan jangka waktu perusahaan untuk mendapatkan kembali modal yang diinvestasikan.

Imbal Balik Atas Modal = Laba Bersih / Modal

Rasio ini sangat penting bagi pemilik usaha karena mengukur besarnya keuntungan yang didapat dibanding dengan resiko yang diambil saat menjalankan bisnis.

Seperti yang sudah diutarakan, untuk mengetahui kondisi perkembangan perusahaan secara obyektif, Anda harus membandingkan dua hingga tiga laporan periode sebelumnya agar mengetahui naik turunnya masing-masing rasio di atas.

Saatnya Menganalisa Laporan Laba Rugi Anda

Saya yakin saat ini Anda sudah jauh meningkat pemahamannya tentang laporan laba rugi. 

Di tulisan ini sudah dibahas tentang seluruh komponen laba rugi, lalu bagaimana merangkainya untuk membuatnya menjadi laporan laba rugi & akhirnya cara menganalisa kesehatan perusahaan dengan rasio finasial.

Tidak lupa, sudah diajarkan pula cara menghitung titik impas (break even point).

Pergunakan ilmu ini dalam perusahaan anda sendiri atau di tempat anda bekerja, pasti akan sangat bermanfaat.

Selamat membuat laporan laba rugi Anda!

Your comment